Senin, 22 Juli 2013

Masjid Al-Ghuri, Mahakarya Terakhir Dinasti Para Budak


Wikala (Karavanserai) al-Ghuri

"kami menangis atas apa yang menimpa Mesir dan penduduknya

            penopangnya yang kuat sudah hancur sehabis-habisnya

Dengan penuh kehinaan, Mesir sekarang telah dikuasai

            Setelah dulunya, ia sudah lama menguasai"

(Syaikh Badrudin al-Zaytuni, dinukil oleh Ibn Iyas)

Di dekat tepi pantai ibukota Portugal, Lisbon, sebuah monasteri raksasa berdiri elegan dengan gaya khas gothik akhir. Simbol kejayaan Portugal dalam dunia maritim dan maskot arsitektur bergaya Manueline itu bernama Jeronimo Monastery, dikonstruksi awal mulanya pada tahun 1501 M, dan baru selesai satu abad kemudian pada tahun 1601 M.  Monasteri ini dibangun ketika Portugal tengah menikmati kekayaan tak terbatas yang dihasilkan dari hasil perdagangan komersial dari Afrika dan dunia Timur. Raja Manuel I (1469-1521 M), yang mentitahkan Vasco da Gama untuk mengarungi lautan mencari kekayaan di India, membangun rumah Yesus ini dari Vintena da Pimenta, atau 5% pajak dari hasil bisnisnya. Keuntungan sisanya yang didapat dari lada, kayu manis, pala, dan rempah-rempah lainnya digelontorkan untuk kerajaan. 

Monasteri yang dibangun oleh tangan arsitek Diogo de Boitaca (d. Around 1528 M), dengan memakai materi batu gamping yang berwarna keemasan, atau Calcario de lioz, itu menjadi tempat peristirahatan terakhir sang penemu rute laut ke India, Vasco da Gama (1460-1524 M), yang namanya sampai sekarang menjadi simbol kebanggaan Portugal. Selain makam da Gama, monasteri juga memuat beberapa makam tokoh penting lainnya, seperti penyair Luis de Camoes (1524-1580 M), pengarang The Lusiads, cerita epik yang menggambarkan keberhasilan da Gama, makam Raja Manuel sendiri, raja Sebastian (1554-1578 M), serta penyair Fernando pessoa dan Alelxandre Herculano. 

Monastery of San Jeronimo, Lisbon
Monastery St. Jeronime di Lisbon, Portugal
Selain desain Manueline yang kaya akan orkestra ornamen yang kompleks, arsitek juga sengaja menghadirkan suasana maritim di dalam ukiran interiornya. Sejumlah bentuk wajah asing yang menandakan orang-orang nun jauh di Afrika atau Asia dipahat didinding gereja. Ukiran berbentuk tambang kapal dipahat di sebagian langit-langitnya, sementara di ruangan lainnya berbagai obyek aneh dan misterius, seperti monster laut, dihadirkan dalam seni pahat dan ukir yang menakjubkan. Raja Manuel mungkin sengaja ingin menghadirkan memori kejayaan kerajaannya kepada setiap pengunjung gereja ini, memberi tahu dunia bahwa Portugal di masanya adalah kerajaan yang meskipun kecil, tapi mampu menggegerkan dunia. Masa Penemuan (Age of Discoveries) yang diprotokoli oleh Portugal ini merupakan masa-masa penting dalam sejarah dunia, yang nantinya juga akan merubah wajah sejarah umat manusia selama berabad-abad ke depannya.

Tidak terlalu jauh, di tepian sungai Tagus, yang mengalir tenang di kota Santa Maria de Belem, sebuah monumen yang juga menunjukkan kejayaan Abad Penemuan dan terbuat dari batu gamping berwarna putih cerah itu terkenal dengan nama Menara Belem, simbol utama Era Pelayaran Portugal. Bagi para pelaut, menara ini adalah pemandangan terakhir ketika merka meninggalkan Lisbon, lalu pergi menuju lautan luas yang mematikan. Pahatan di menara yang selesai dibangun pada tahun 1519 itu memuat motif-motif hasil penemuan, obyek-obyek dunia baru, juga pahatan figur terkenal seperti Saint Vincent. Francisco de Arruda (d. 1547), sebagai arsitek menara ini, adalah orang yang membangun benteng pertahanan Portugal ketika mereka menginvasi Maroko, maka tak aneh menara ini juga memiliki gaya arsitektur Moorish (muslim Arika Utara, atau Andalusia), sebagaimana yang terlihat di bagian menara pemantau. Sama seperti monasteri Jeronimo, menara Belem ini juga dibangun untuk memperingati kejayaan Portugal dan keberhasilan dunia maritim mereka. Para pelaut kebanggan kota ini kembali dari negeri jauh sana dengan membawa emas, rempah-rempah, dan barang mahal lainnya yang menjanjikan kekayaan dan kekuasaan.

Belém Tower, Lisbon
Menara Belem, Lisbon, Portugal
Kejayaan Portugal itu bermula ketika Raja Henry si navigator (1394-1460 M), mensponsori pelayaran samudera pertama pada tahun 1418 untuk menemukan rute alternatif yang bisa mencapai India, tanah surga yang melahirkan lada, yang waktu itu disebut-sebut sebagai emas hitam dan komoditi paling laris dijual di seluruh dataran dunia.  Selanjutnya, Portugal mengirim pelayar dan navigator terbaiknya Bartolomeu Dias (1451-1500 M) untuk melabuh ke surga itu dan berhasil menemukan  rute melalui Afrika Selatan. Tak ingin ketinggalan, monarki raksasa gabungan Aragon dan Castilia, yang baru saja menyempurnakan reqoncuista, mensponsori Christopher Columbus (1451-1506 M) untuk berlayar melalui Samudera Atlantik pada tahun 1492. Sampai pada tahun 1498 M, enam tahun setelah Columbus menemukan Amerika, Vasco da Gama berhasil mencapai India dengan melewati Tanjung Harapan di Afrika. Da Gama tiba di pelabuhan Kalkuta setelah kurang lebih 10 bulan mengarungi samudera sejak ia bertolak dari Lisbon  dengan memimpin 4 kapal besar berawakkan 170 orang. Ketika kapal da Gama jenis carrack, The Sao Gabriel, tiba di Kappadu, dekat Kalkuta (Kerala), Da Gama sadar ia tidak sendirian.

Vasco da Gama
Sejumlah kawasan di tepian laut India, Afrika, dan Asia seperti Mombasa, Socotra, Muscat, Ormuz, Goa, Ceylon, dan Malaka telah lama dikontrol oleh sejumlah kerajaan dan pengusa karena menjadi kawasan vital untuk urusan komersial, apalagi kota-kota penting sekitar tepian pantai Malabar seperti Kalkuta, Cochin, Quilon, Goa, dan Cannanore, rute utama perdagangan rempah-rempah kualitas tinggi itu menjadi pusat perdagangan komersil tingkat tinggi yang kosmopolit selama berabad-abad. Sejak lama kota pelabuhan itu telah menggaet berbagai pendatang dari Mesopotamia, Mesir, Yunani, Roma, Yerusalem, dan arab. Untuk menguasai kota-kota pelabuhan itu, da Gama harus berhadapan dengan sejumlah pihak yang tidak ingin kehilangan sumber kekayaan terbesar kala itu, yaitu Kesultanan Gujarat, Zamorin Kalkuta, dan Mamalik, dinasti muslim yang dibangun oleh para budak dan sudah hampir 3 abad lamanya menguasai semesta Mesir, Levant (Syam), dan Hijaz.

Portugal vs Mamluk

Di istana Mamalik di Citadel Saladin, petinggi-petinggi istana, amir Khosekki (bodiguard Sultan), jenderal (Atabek), dan pejabat-pejabat lainnya tampak geram. Sultan Qanshuh al-Ghuri (1441-1515 M), penguasa Mesir dari dinasti Mamalik kebakaran jenggot karena baru saja mendengar kabar dari koleganya di Gujarat, bahwa kapal-kapal pengangkut jemaat haji di Madayyi, yang akan berangkat dari Kalkuta ke Mekah diserang dan dikepung oleh armada Portugal yang dipimpin Vasco da Gama. Sekitar lebih dari 400 jemaat haji, 50 wanita, termasuk pemilik kapal dan delegasi dari Mesir dikurung dalam kapal lalu dibakar hidup-hidup secara brutal. Da Gama dengan sangat keji tega melakukan perbuatan itu padahal sebelumnya para jamaat menawarkan bantuan yang bisa memberikan kecukupan pangan bagi semua budak Kristen di kerajaan Fez, Maroko. Dengan tatapan mata yang kehilangan belas kasihan, da Gama melihat ibu yang menggendong anaknya memohon untuk diampuni, meminta belas kasihan sembari menawar-nawarkan emas di tangannya, namun da Gama diam bergeming, telinganya tidak lagi mendengar jeritan bayi dan ibu itu yang terbakar hidup-hidup. 

Raja Manuel I
Kondisi itu diperparah beberapa tahun setelah da Gama melabuh di Kalkuta. Setelah da Gama gagal bernegosiasi dengan raja Zamorin di Kalkuta, dan kembali ke Lisbon dengan membawa rempah-rempah, lalu diberi gelar Almirante dos mares de Arabia, Persia, India e de todo Oriente (Admiral Lautan Arabia, Perisa, India dan Seluruh Dunia Timur), Raja Manuel I menggantinya dan mengutus armada kedua dibawah komando Pedro Alvares Cabral (1467-1520 M), bangsawan yang tidak berpengalaman di laut itu pada tahun 1500 menemukan Brazil ketika armadanya menuju India. Cabral, berhasil bernegosiasi dengan raja Zamorin baru dan membuatnya percaya untuk memberikan kesepakatan dengan Portugal. Cabral lalu diberi izin untuk mendirikan feitoria, atau post dagang di Kalkuta. Dan bagi arab, hal itu adalah ancaman. 

Kerusuhan di Kalkuta antara arab-muslim, dengan orang-orang Portugal, membuat jalur dagang India ke Mesir, lalu ke Venisia terancam dan bisa-bisa membuat harga melambung gila. Kapal-kapal arab yang bertolak meninggalkan India diserang dan dihancurkan, lalu ditenggelamkan bersama isinya. Tahun 1504, sekitar 17 kapal arab dibumihanguskan oleh orang-orang Portugis di pelabuhan Panane. Tak ayal, sultan al-Ghuri marah bukan main. Dia langsung mengirim utusan ke Paus di Vatikan dan mewanti-wanti  jagat kristen jika tidak segera menghentikan penyerangan terhadap muslim di India, maka pasukan Mesir terpaksa akan memberangus tempat suci Kristen di dataran Syam. Mendengar Laut Merah sudah diblokir oleh Portugal, Venesia ikut-ikutan kalap. Kota dengan julukan Ratu Adriatik itu segera mengirim konvoy ke Sultan al-Ghuri dan membujuknya untuk segera menghentikan aksi monopoli Portugal. Al-Ghuri segera meminta koleganya di Gujarat sana untuk menahan laju ekpansi bisnis Portugal yang akan merugikan kawasan. Mengingat dinasti Mamluk tidak terlalu berpengalaman dalam perang maritim, karena tabiat nomadik mereka yang selalu mengandalkan kuda, Venisia dikabarkan akan menopang Mesir dengan suplai senjata dan ahli kayu untuk membuat kapal. Selain Venesia, dinasti raksasa saudara sekaligus rival mereka, Turki Usmani, juga bersiap menyokong ekspedisi menyelamatkan ekonomi kawasan tersebut. 

Menuju Laut

Sketsa Qansuh al-Ghuri, Paolo Giovio (1483-1552)
Dari Kairo, sultan al-Ghuri langsung memanggil jenderal senior kepercayaannya, Amir Husain al-Kurdi. Gubernur Jeddah itu kini menjadi admiral angkatan laut utusan Mamluk untuk untuk memimpin ekspedisi menuju lautan India. Tahun 1505 M, al-Kurdi bertolak dari Suez melintas laut Jedda, lalu kemudian ke Aden. Dua tahun setelahnya, angkatan laut Mamluk membentuk sekitar 50 kapal layar besar yang siap-siap bertolak menuju Diu, supaya bertemu dengan mitra mereka di Kesultanan Gujarat pimpinan Sultan Mahmud Begada. Ketika mereka sampai di Diu, pada tahun 1508, al-Kurdi disambut oleh Malik Ayyaz, seorang admiral berdarah Russia yang memimpin armada laut Kesultanan Gujarat yang waktu itu merupakan armada pertama terkuat di kawasan. 

Pertempuran Chaul

Tahun 1508, pasukan gabungan antara Mamluk dan Kesultanan Gujarat berhadapan dengan armada Portugal di kota pelabuhan bandar Chaul, yang berlokasi 60 km selatan Mumbai. Viceroy Portugal pertama di India, Francisco de Almedia (1450-1510 M), mengutus anaknya sendiri Lourenco de Almedia (1480-1508 M) untuk menumbangkan maritim gabungan itu sebagaimana ia sukses menenggelamkan kapal-kapal milik kerajaan Zamorin (Hindu) pada pertempuran dekat Cannanore satu tahun sebelumnya. Lautan tepi kota Chaul kini mendadak berubah menjadi medan tempur mengerikan. Armada portugal menyiapkan 3 kapal besar serta 5 jenis Caravel, sementara pasukan gabungan Mamluk dan Gujarat menghadirkan 6 kapal jenis Carrack Turki, 6 kapal perang layar (galley), 1500 pasukan pejuang, serta 40 kapal layar sokongan Kesultanan Gujarat.
  
Kapal jenis Carrack Santa Catarina do Monte Sinai, dipakai oleh Vasco da Gama ketika melakukan pelayaran ke-3 ke lautan India. sumber: wikipedia
Armada gabungan lalu dengan tanpa ampun memborbandir pasukan Francisco yang jauh lebih sedikit. Sebanyak 6 kapal milik armadanya ditambah 140 orang mati di lautan dalam. Francisco sendiri tidak selamat dalam gempuran mematikan tersebut. Kematiannya sekaligus menandakan kekalahan pertama armada laut Portugis yang melegenda itu. Di Bombay, sang ayah, Francisco de Almeida kalap bukan main, kabar kematian anaknya bak halilintas yang menghantam lututnya. Beberapa hari, Almedia mengunci diri di ruangan dan menolak untuk berbicara kepada siapapun. Dalam dadanya, api balas dendam berkobar hebat, bak gunung api yang siap meletus, Almedia dengan mata melotot berkata keras; "dia yang telah memakan anak ayam, harus memakan induknya, atau harus membayar untuknya!!"

Pertempuran Diu

Setahun kemudian, setelah Kairo merayakan kemenangan armadanya di pertempuran Chaul, kini tiba-tiba berita buruk menyebar begitu hebat di setiap jalanan Kairo. Istana Mamalik di Citadel geger ketika sang Sultan mengumumkan armada yang dipimpin jenderalnya Amir Husein al-Kurdi menderita kekalahan mengenaskan di lautan India, tepatnya dekat kepulauan Diu. Sultan al-Ghuri yang sudah tua itu tampak ketakutan, sebentar lagi, daerah kekuasaannya akan menderita kerugian hebat. Krisis ekonomi akan segera menggempur Kairo, Siria, bahkan Dua kota suci titipan Rasulullah, Mekah dan Madinah. Tanpa sadar, dinasti raksasa yang dibangun pendahulunya lamat-lamat akan menemui akhir.

Kemarahan Francisco de Almeida tidak dapat dibendung oleh gabungan armada Mamalik, Kesultanan Gujarat, dan deretan armada lautnya Turki Utsamni ketika mereka bertempur di perairan dekat Diu pada tahun 1509. 250 kapal, termasuk 12 kapal utama yang tergabung antara 6 kapal Carrack Turki dan jenis Galley, ditambah 40 galley Gujarat dan sekitar 80 kapal kecil dari dinasti Zamorin tidak cukup menahan gempuran mematikan dari armada yang marah pimpinan Almeida yang membawa 18 deretan kapal Portugal menakutkan, terdiri dari 12 Carrack,  6 Caravels, plus 1300 pejuang Portugal yang berpengalaman.  

Kemenangan Almeida ini telah mengukuhkan kontrol penuh mereka di Lautan India. Kini, rute rempah-rempah dari yang tadinya melalui Laut Merah beralih menuju Arika melalui Tanjung Harapan. Setelah itu, beberapa kawasan penting sepanjang lautan India berhasil dimonopoli penuh, seperti Goa, Ceylon, Malakka, dan Ormuz. Sultan al-Ghuri, bukan saja sedih karena telah kehilangan kontrol kawasan komersial paling menentukan itu, tetapi juga harus siap-siap menyaksikan dinasti raksasanya tumbang oleh Tukri Usmani, musuh bebuyutannya yang digjaya karena telah menaklukan ibu kota dunia, Konstantinopel, oleh sultan terkenal sejagat, Muhamad al-Fatih. 

Masjid dan Madrasah al-Ghuri

pintu masuk masjid al-Ghuri
Sisa-sisa memori itu masih terasa samar di Kairo. Di sebuah kawasan sibuk dan berisik di Jalan Muiz dan kawasan Ghuriah, dekat dengan al-Azhar dan pasar legenda Khan Khalili, sebuah peninggalan yang mengingatkanku kepada peritiwa itu berdiri kusam. Sebuah masjid dengan arsitektur khas Mamluk, ditemani oleh madrasah 4 mazhab sunni, sabil kutab, dan Karavanserai terlihat sedih di tengah hiruk pikuk pasar rakyat berisik di sekelilingnya. Di samping masjid, ada bangunan tempat makam sang sultan, tetapi ia tidak pernah selamanya dikuburkan di makamnya yang biaya pembangunannya menghabiskan ratusan ribu dinar itu. Qansuh al-Ghuri, sultan terakhir dinasti Mamluk, menemui ajalnya ketika pasukannya kalah telak di pertempuran Marj Dabik di Suriah oleh pasukan menakutkan Turki Utsmani pimpinan sultan Salim I, cucu Muhamad al-Fatih sang Penakluk.

Sekarang, aku berdiri di hadapan karya terakhir dinasti yang pernah berkuasa di sini hampir 3 abad lamanya (1250-1517). Dalam kurun waktu tersebut, dinasti para budak itu mewariskan orkestra arsitektur yang luar biasa dan tak terhitung jumlahnya. Di seantero Kairo, jalanan dihiasi oleh puluhan karya arsitektur garapan mereka, masjid dengan menara-menara menjulang, madrasah-madrasah raksasa, karavanserai, sabil, sabil-kuttab, rumah sakit,  khanqah, yang semuanya memiliki nilai seni pahat dan ukir spektakuler. Sebut saja masjid dan madrasah Sultan Hasan yang melegenda, ukurannya yang menakutkan membuat arsitektur ini disebut-sebut sebagai Piramida-nya islam. Khanqah Farag ben Barquq, madrasah serta tempat menyepi para sufi itu dibangun begitu elegan dengan kedua kubah kembarnya yang dipoles ornamen segar, atau masjid Sultan Qaitbay yang terletak di pinggiran kota Kairo, masjid mungil itu menyembunyikan interior yang ditaburi ornamen kompleks dan ukiran langit-langitnya yang membuat mata terbelalak. Belum komplek Sultan Qalawun di jalan Muiz, berdiri gagah menakutkan dengan jendela-jendelanya yang bergaya Ghotik, dengan ditemani menara berornamen arabes khas Afrika Utara milik madrasah anaknya, Nashir Muhamad, yang terletak persis di samping komplek. Tidak saja para sultan yang gemar akan arsitektur, tapi juga diikuti oleh para amir-nya, sebut saja amir-amir-nya Sultan Nashir Muhamad bin Qalawun, yang membangun deretan masjd yang tidak kalah hebat dari karya sultan, semisal garapan Amir Yilmaz, amir Assanbugha, amir Qowsun, Amir Altunbugha al-Maridani, amir Silahdar, amir Aqsunqur, dan amir Syaikhu al-Umari. 

Keindahan kota Kairo ini pernah digambarkan oleh sejarawan muslim asal Tunisia, Ibnu Khaldun (w. 1406 M) yang pernah mengunjungi Kairo pada abad 14 M.  Ketika ibnu Khaldun ditanya oleh sekretaris Sultan Abu Inan, dari kesultanan Marinid di Fez, Maroko, ibnu Khaldun menjawabnya singkat; "Kairo lebih spektakuler dari apa yang pernah dibayangkan semua orang."

Sabil dan Kutab al-Ghuri
Masjid yang kini aku masuki ini merupakan karya mereka yang terakhir. Dibangun oleh sultan al-Ghuri pada tahun 1503 dan selesai dua tahun setelahnya, bersamaan dengan komplek makam, sabil-kutab, dan karavanserai yang terletak berdekatan dengan masjid. Berhadapan dengan pintu masuk khanqah-makam, arah masuk masjid terlihat tinggi menjulang berbentuk trilobit dan dihiasi mukornas (stalaktit) rumit serta lafaz Jalalah di atasnya. Pintu masuk terbuat dari kayu dihiasi oleh lapisan tembaga yang dipoles menjadi taburan ornamen yang detail luar biasa. Nama sultan dipahat di bagian berbentuk gerigi yang dipasang dipusat taburan ornamen tersebut. Masuk lebih dalam, aku disuguhkan interior yang menyihir. Pemandangan dalam masjid ini hampir sama dengan interior masjid sultan Qaitbay, pendahulu al-Ghuri, yang terletak di Kota Orang Mati di pinggiran Kairo. Terkesan mungil dan maskulin, namun menyembunyikan kedetailan seni pahat dan ukir yang memanjakan mata. Sebagaimana kebanyakan masjid masa dinasti Mamluk Burji, masjid ini memiliki 4 iwan (ruangan beratap yang menghadap halaman tengah), dan ruangan mihrab selalu dibuat paling luas. Aku mendapati setiap lengkung iwan masjid ini tidak kosong dari pahatan. Temboknya dirubah dramatis menjadi orkestra ornamen dan arabes dengan tingkat kedetailan luar biasa. Tembok batu berplester itu digubah menjadi kanvas penuh kaligrafi berkhat-kan Tsulutsi khas Mamluk. 

Lampu tembaga berukuran besar tergantung di kedua iwan, sementara dinding masjid dilapisi marmer berwarna-warni menyegarkan. Sejarawan Ibnu Iyas (w. 1522 M) menyebut masjid ini tidak memiliki saingan di masanya, meski dengan sadar, al-Ghuri mengambil paksa marmer yang ada di masjid lain kemudian dipasang di masjidnya sendiri. Setiap ukiran dalam masjid ini semakin mengukuhkan kepiawaian arsitek dan para pemahat muslim waktu itu. Tak ayal, ketika Sultan Salim (w. 1520 M) menaklukkan Mesir, ia mengumpulkan jenderalnya di dalam masjid ini, kemudian memanggil seluruh ahli pahat, ahli ukir, kalighrapher, dan arsitek untuk hijrah ke Konstantinopel, sultan ingin memakai mereka untuk membangun arsiktektur sehebat masjid ini di seantero kota pemisah Eropa dan Asia itu.

Minaret al Ghuri mosque (1505)
menara al-Ghuri
Masjid ini memiliki menara yang unik dan tidak biasa dalam sejarah panjang gaya menara Mamalik, yang menggabungkan bentuk oktagonal, silinder, dan kotak. Menara al-Ghuri berbentuk segi empat dari bawah ke atas mengikuti kebanyakan menara garapan muslim berber di Maroko, Afrika Utara, atau Andalusia di Spanyol. Bentuk menara ini banyak dipakai di masa-masa terakhir Mamalik, seperti menara masjid Qanibay al-Rammah dekat madrasah Sultan Hasan. Al-Ghuri juga menambahkan menara dengan gaya serupa di masjid al-Azhar. Bagian ujung menara yang menopang empat pentolan dihiasi dengan warna merah bermotif catur, membuat mata sedap memandangnya dari kejauhan. 

Turki Utsmani vs Mamluk

Persis di depan masjid, bangunan yang menyimpan makam sang sultan berdiri tegar dengan bagian pintu masuk yang menjulang ke atas. Selain makam, bangunan ini juga berfungsi sebagai khanqah (tempat menyepi para sufi), kutab (pesantren), serta menggandeng sabil (tempat minum umum) di bagian kiri pintu masuk. Namun, jasad sultan tidak berada di sini, mayatnya terbuang di lembah ganas di dekat Aleppo, Suriah, ketika ia menemui ajalnya saat pertempuran Marj Dabiq, pertempuran yang mengkhiri konflik berkepanjangan kedua dinasti dan menjadikan Mesir setelahnya hanya sebatas provinsi yang dikontrol dari Istanbul. 

Perdamaian yang dibuat Sultan Qaitbay dari Mamluk, dengan sultan Bayazid II dari Turki Usmani sejak tahun 1491 nampaknya harus berakhir ketika Sultan Salim merebut wilayah kekuasaan Mamluk di perbatasan Timur Syam pada tahun 1515 M. Kedua dinasti raksasa itu menderita kerugian besar-besaran setelah pertempuran panjang dan melelahkan antar kedua dinasti (1485-1491 M) dalam memperebutkan kawasan Elbistan, yang menjadi ibukota Dinasti Dulkadir, Turki bagian Timur sekarang. Dulkadir merupakan dinasti kecil suku Turkmen yang paling dominan di kawasan itu karena menjadi pusat kontrol perdagangan rempah-rempah dari asia ke Eropa. Awalnya, Dulkadir merupakan wilayah yang ikut kepada kekuasaan Mamluk. Namun, Turki Usmani yang juga menguasai Timur Anatolia, tidak ingin kehilangan pusat kontrol komersial itu, mereka ingin merebut Dulkadir dari tangan Mamluk. Akhirnya, Pertempuran tak berkesudahan memperebutkan kawasan ini ganjar oleh menyerahnya dinasti Nasrid di Granada kepada Monarki Spanyol kristen pimpinan Ferdinand dan Issabela. Bayazid yang disibukkan oleh gempuran Mamluk hanya bisa mengutus Kemal Reis untuk memberangkatkan kapal dan mengangkut muslim dan yahudi yang diusir dari Spanyol, untuk kemudian dipersilahkan tinggal dan menetap di Istanbul. 

Tiga Penunggang kuda Mamluk dengan tombak
sumber: wikipedia
Para penguasa Dulkadir sendiri harus merebut hati kedua Dinasti raksasa itu demi mendapatkan kekuasaan. Sebagian sultan Dulkadir ada yang loyal kepada sultan Usmaniyah dan membantu mereka, sebagian ada yang tetap setia kepada Dinasti Mamluk dan berusaha sebisa mungkin menjaga benteng pertehanan dinasti para budak itu di bagian Utara Syam. Sultan Ala' al-Daulah bin Sulaiman ( memerintah tahun 1481-1515) misalnya, yang loyal terhadap Mamluk, dibunuh oleh sultan Salim karena menghasut pasukan Salim ketika ia hendak menuju Persia untuk membungkam ekspansi Dinasti Safawiyah di bawah panji Ismail I[1]. Salim mentitahkan jenderalnya Sinan Pasha untuk memberangus Alaudaulah dan memenggal kepalanya, lalu dikirim ke Kairo. Peristiwa ini membuat sultan al-Ghuri sedih bukan main. Sultan menguburkan kepala Alaudaulah di samping kuburan ayahnya Shah Sawar. Ketika Alaudaulah mati, Dulkadir kini dipegang oleh keponakannya, Ali ben Shah Sawar (memerintah tahun 1515-1521), yang sangat loyal kepada Turki Usmani. Sejak saat itulah, Mamalik tidak lagi memiliki kontrol di kawasan vital itu. Keadaan ini nantinya akan mengantarkan pertempuran terakhir antara Mamalik dan Turki Usmani, dan akan merubah sejarah Kairo selama-lamanya.

Dari Kairo, sultan Qansuh al-Ghuri menyiapkan pasukan raksasanya untuk membungkam Salim I yang telah merebut kawasan-kawasan penting milik Mamluk di Utara Syam. Dengan kondisi ekonomi Mesir yang carut-marut akibat kekalahan Mamalik dalam mempertahankan lautan Hindia dari tangan Portugal, dan menyebabkan kota Socotra di Teluk Aden, serta Hormuz di Teluk Persia diblok total, Kairo juga menderita konflik internal hebat yang sudah terlanjur mengakar sejak lama. Permusuhan sejak lama antara budak Ajlab dengan budak Qaranish semakin membuat dinasti tua ini kelabakan. Para budak Qaranis, yang sudah lama memegang peranan dominan di semesta oligarki militer ala Mamluk, harus bersaing dengan budak-budak Ajlab, yang baru dibeli Sultan al-Ghuri ketika mereka sudah besar. Para Qaranis menganggap diri mereka adalah pemimpin pasukan yang sudah berpengalaman dan layak dijadikan andalan sultan, sementara tidak demikian dengan budak-budak Ajlab, yang jumlahnya waktu itu mencapai 13 ribu orang. Diperparah, perebutan kekuasaan dan persaingan berdarah para gubernur Mamalik di jagat Syam membuat dinasti ini semakin mendekati titik zenit. Dengan kondisi seperti itu, dan tanpa rapat dewan militer terlebih dahulu, al-Ghuri nekad berhadapan dengan dinasti raksasa Turki Usmani yang kekuasaanya mencapai Eropa itu. 

Penunggang Kuda Mamluk/Otoman, 1550. musium
Musee de I'armee. sumber: wikipedia
Pada tahun 1516 M, Sultan al-Ghuri mengarak pasukan dari Babul Futuh dengan membawa seluruh elemen militer Mamluk, yang terdiri dari budak-budak Ajlab, Qaranish, Khosiki (bodiguard Sultan yang tidak terlalu pandai berperang), para amir (pemimpin pasukan), pasukan cadangan (aulad an-nas) yang hanya dipanggi ketika dibutuhkan, dan terakhir pasukan Halaqah, yaitu tentara resmi negara yang siap berperang kapan saja. Musik penggiring perang ditabuh oleh para tobalkhonah, seisi Kairo mendoakan pasukan sultan dan segera kembali dengan kemenangan. Dengan 40 amir Atabek (jenderal tertinggi), yang membawa 5000 mamluk militan, diikuti Khalifah Mutawakkil III sebagai petinggi negara tertinggi, ulama, ahli hukum, muazin, doktor, dan musisi, semuanya ikut ke dalam pawai menuju medan perang. 

Dengan dibekali skill menunggang kuda dan kombat jarak dekat, pasukan mamluk membawa senjata-senjata andalan mereka seperti pedang yang diproduksi di Kairo dan Dmaskus. Lalu tombak, yang terbuat dari kayu Beech (fagus) atau kayu boss yang diimpor dari India. Pasukan juga membawa Thobar, atau kapak perang untuk jarak dekat, lalu Zanbiyah, atau belati yang diproduksi di Zardakhonah di Kairo. Tak ketinggalan, panah serta busur mereka bawa untuk pertempuran jarak jauh. Seni memanah Mamalik terkenal sangat tinggi, kemampuan mereka dalam memanah ketika menunggang kuda sangat menakjubkan. Haj Yunus al-Masry, yang berkunjung ke Kairo pada abad awal 16 M, saking takjubnya menyebut mereka bukan manusia biasa, tetapi seperti bangsa Jin. Saat itu, Dinasti Mamalik yang dipimpin sultan al-Ghuri telah membentuk dinasti raksasa. Wilayah kekuasaannya membentang dair Kairo sampai Damaskus di Timur, Cyreniaca di Barat, pegunungan Taurus di Utara, dan perbatasan Sudan di Selatan. 

illustrasi Yanisari
Sementara itu dari pihak Turki Utsmani, Salim I membawa pasukan Yanisari andalannya. Pasukan infantri baru (yeniceri) yang dibentuk oleh Sultan Orhan pada tahun 1388 M itu terkenal ahli panah, kombat dan senapan. Dilengkapi kapak dan kilij (pedang Turki), pasukan Yanisari bertugas melindungi Sultan ketika peperangan, mereka juga akan mempertahankan pusat pasukan ketika pasukan kavaleri memakai taktik pura-pura mundur. Yanisari juga mencakup tim ahli peledak, ahli teknik, tukang mesin, penembak jitu, dan penggali terowongan. Pasukan yang terdiri dari budak dan kebanyakan diambil dari Rusia, persia, Yahudi, dan Gypsi itu dipercayai sultan Muhamad II untuk menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453 M silam. Di tangan Salim, wilayah kekuasaan Turki Usmani membentang luas dari jagat Asia Dekat, Eropa Tengah, Balkan, sampai sungai Danube. Kota-kota penting telah ditaklukkan semenjak dinasti ini dilahirkan, seperti Edirne, Sofia, Bulgaria, Wallachia, Konstantinopel, Morea, Serbia, Bosnia, Crimea, Albania, dan Moldavia.

Helm Utsmani, 1520; wikipedia
Pasukan Salim bertolak menuju teritorial milik Mamluk dekat Malatya di Anatolia. Lalu, dekat Aleppo, di Marc Dabik, pasukan Usmani bertemu dengan pasukan Mamalik pada 24 Agustus 1516 M.  Kalah jumlah pasukan dan kelebihan Turki Usmani dalam teknologi dan peralatan perang, tentara Mamluk harus menderita kekalahan mengenaskan. Keahlian menunggang kuda mereka tidak bisa bertahan di hadapan meriam-meriam menakutkan yang dulu menjebol tembok tebal Konstantinopel, panah secepat kilat milik mereka juga tidak kuat beradu dengan senapan mematikan yang dipakai oleh Yanisari. Mamalik baru sadar, sifat keras kepala mereka yang tidak ingin mengembangkan teknik perang, memperbaharui elemen militer, dan mengubah watak nomadik yang seakan menjadi ideologi, ternyata tidak bisa menahan serangan Salim yang membombardir mengerikan. Hal itu diperparah oleh aksi pengkhianatan gubernur Aleppo,  Khaer Bek, ketika pertempuran Marj Dabiq berlangsung. Sejak menjadi gubernur Aleppo 12 tahun silam, Khaer Bek dengan sembunyi-sembunyi melakukan hubungan dengan Dinasti Usmaniyah, membeberkan kelemahan Mamalik, dan membocorkan infromasi rahasia.Turki Usmani menjanjikan akan memberinya wilayah kekuasaan Mesir jika nanti Turki menang. Ketika debu menutup langit Marj Dabiq, Khaer Bek mengajak pasukannya untuk mundur dari medan perang setelah dia mengumumkan berita bohong kematian sang sultan.  Pasukan Mamalik kocar-kacir tidak karuan. Pintu gerbang Aleppo ditutup rapat menghalau tentara yang melarikan diri. Di saat itulah, sultan Qansuh al-Ghuri menemui ajalnya. Kekalahan di Marj Dabiq sekaligus menandakan kontrol penuh Usmani atas tanah Syria. Satu tahun kemudian, pasukan terakhir Mamluk dibawah komando Tuman Bay, sultan terakhir pengganti al-Ghuri, menderita kekalahan telak dan mengenaskan ketika bertempur melawan pasukan Salim di Ridaniya, dekat Abbasiah sekarang. Sultan Salim memasuki Kairo dengan kemenangan besar, kemudian ia memerintahkan tukang jagalnya untuk menggantung Tuman Bay di gerbang Zuwaila. Tahun 1517 M menandakan berakhirnya dinasti para budak yang telah menguasai jagad Syam dan Mesir dua abad lebih lamanya. Masjid sultan al-Ghuri yang aku lihat dari kejauhan menampilkan menaranya yang kontras. Lamat-lamat pucuk menara yang khas itu tidak terlihat,,,,digantikan oleh menara-menara Turki Usmani yang berbentuk runcing seperti jarum, yang menandakan bumi para nabi ini pernah dikuasai oleh para penakluk Konstantinopel itu. 

Sultan al-Ghuri kini kesepian di lembah panas di pinggiran Aleppo. Jasadnya tidak pernah ditemukan dan dimakamkan. Makam yang tersembunyi di balik bangunan di depan masjidnya terlihat gelap tanpa cahaya. Ketertinggalan teknik perang, perebutan kekuasaan, kolapsnya ekonomi, dan pengkhianatan yang keji, membuat sultan al-Ghuri tidak sempat kembali bersujud untuk shalat di dalam masjid yang menjadi mahakarya terakhir dinasti para budak itu. 

****

Ramadlan, 2013

Further readings; 

Lisbon City of The Sea; a History; Malcolm Jack
Exploration in the World of Middle Ages (500-1500); Pamela White
Maritime Exploration in the Age of Discovery (1415-1800); Ronalds. Love
The Mamluks (1250-1517); David Nicole PhD
Islamic Monuments in Cairo The Practical Guide; Caroline Williams
Ottoman Warfare 1500-1700; Rhoads Murphey
A Military History of The Ottomans from Osman to Ataturk; Mesut Uyar and Edward j. Erickson
History of The Ottoman Empire and Moderen Turkey; Stanford Shaw
The Ottoman Age of Exploration; Giancarlo Casale
Malamih al-Qahirah fi Alf Sanah; Gamal al-Gaitani.
Ibn Zanbal al-Remal, Akhirat al-Mamalik, au Waqi'at al-Sultan al-Ghuri ma'a Salim al-Utsmani; Tahkik Abdul Munim Amir.
The Mameluke; Or, Slave Dynasty of Egypt, 1260–1517, A. D. - by William Muir
















[1] Bayazid yang waktu itu tengah sibuk mendorong ekspansi dinastinya ke Eropa, kekuasaannya di wilayah Timur lamat-lamat mulai terancam oleh kekuatan lain yang tidak bisa dianggap remeh. Iran, negeri para kaisar itu mulai melahirkan pergerakan-pergerakan besar yang nantinya akan merubah wajah Persia selamanya. Tahun 1499 M, Ismail I, pemuda syi'ah yang berambisi menyebarkan doktrin imamologi Itsna Asyariah itu mulai merancang agenda besar penaklukkan kota-kota penting yang dipegang Turki Usmani dan penguasa-penguasa Sunni di Iran dan Anatolia. Dari Lahijan, provinsi Gilan di Iran sekarang, Ismail bertolak menuju Ardabil, kota di Utara Iran dan pusat produksi karpet serta permadani terbaik sejagat Persia. Di sana, simpatisan Ismail, yang disebut oleh Turki Usmani dengan nama Qizilbash, sebuah kelompok militan yang tergabung antara suku Turkoman Anatolia (Ustadjlu, Rumlu, Shamlu, Dulkadir, Afshar, Qajar,Varsak), dan suku Tajiks, membentuk pasukan sebanyak 7000 orang dan langsung menuju Shirvan, sebuah daerah di Timur Kaukasus, Azerbeijan sekarang, yang waktu itu dipimpin oleh Farrukh Yassar, raja Shirvan yang telah membunuh ayah Ismail I, Syeikh Haidar, pada tahun 1488 M silam. Ismail sadar, ini adalah penaklukan sekaligus balas dendam. Kini, kawasan Anatolia milik Turki Usmani tengah menghadapi ancaman.

Setelah Farrukh Yassar tumbang pada tahun 1500, Ismail I langsung menggempur pusat kekuasaan Ak Koyunlu yang terletak di Selatan Azerbeijan. Pemimpin Ak Koyunlu, Alwand Mirza, dengan 30.000 pasukannya kalah telak pada pertempuran itu. Lalu Tabriz, sekarang menjadi ibu kota dinasti yang baru saja dibentuk oleh Ismail I, yaitu dinasti Safawiyah. Ismail yang waktu itu umurnya baru mencapai 15 tahun telah berhasil menaklukkan Iran, lalu menyebut dirinya sebagai Shah Iran.  Belum cukup, tahun 1510 pasukan Ismail menumbangkan orang-orang Uzbekistan di Merv, Turkmenistan sekarang,  dan membunuh pemimpin mereka Muhamad Shaybani. Saat itu, Ismail berhasil menguasai salah satu kawasan penting yang dilalui jalur sutera. Kontrol ekonomi mereka semakin besar dan mengancam dinasti raksasa Turki Usmani.

Tahun 1512 M, Bayazid II digantikan oleh anaknya, Salim The Grim, setelah sukses menyingkirkan anak tertua Bayazid (Ahmad) dari persaingan menjadi Sultan. Seketika, Salim langsung mengultimatum kepada 200.000 tentara Utsmani, Yenisari, dan artilerinya untuk membungkam ekspansi Kizilbash dibawah komando Ismail I itu. Pada tahun 1514 M, Salim I bertolak menuju Persia dan bertemu dengan pasukan Ismail di Chaldiran, sebelah barat Azerbeijan. Kalah jumlah dan teknologi perang, pasukan Ismail berhasil dikalahkan. Ismail I sendiri melarikan diri ke istananya. Kekalahan telak itu membuat Turki Usmani menguasai kawasan-kawasan metropolit di Persia, semisal Azerbaijan, Luristan, dan Kirmanshahan. 


















1 komentar: