"Dunia adalah buku, dan siapa yang tidak
bepergian, maka ia hanya membaca satu halaman saja."
St. Augustine of Hippo (w. 430 M)
Sekitar
paruh terakhir abad 14 M, seorang sosiolog muslim tersohor, Ibnu Khaldun (w.
1403), setelah berkeliling dan jalan-jalan santai di Kairo, ia berkata; "siapa
yang belum melihat Kairo, maka ia belum menyaksikan kebesaran islam." Ibnu
Khaldun mungkin sangat benar, ia tidak bisa menahan decak kagumnya ketika
melihat jalanan Kairo ini disesaki oleh deretan karya seni dan arsiktektur
muslim yang berjejalan di setiap sudut kota. Horizon langit kota dipenuhi oleh puluhan
menara yang menjulang-julang. Sementara hampir di setiap gang banyak dibangun
masjid-masjid yang kaya akan seni arsikteturnya. Bagaimana tidak, setiap hari
Ibnu Khaldun akan berpapasan dengan madrasah monumental yang baru saja selesai
dibangun oleh Sultan Zahir Barquq (w. 1399 M), pendiri Dinasti Mamluk Burji di
Mesir. Di dekat madrasah, masih ada panorama karya arsiktektur menakjubkan yang
membetot hati Ibnu Khaldun. Sebut saja Madrasah Sultan Nashir Muhamad (w. 1341
M), dengan pintu gerbang bergaya khas ghotik yang diambil dari katedral ketika
Acre tumbang tahun 1291 M, dihiasi oleh menaranya yang hanya ada satu-satunya
di Kairo, dipoles oleh pahatan dan ukiran khas Afrika Utara. Melihatnya seakan
terhempas ke alam surga arsitektur di Andalusia, Fez, Marakesh, atau Granada.
Di samping madrasah Nashir Muhamad, ada komplek madrasah, makam, masjid,
sekaligus rumah sakit yang membuat siapa saja pecinta arsiktektur akan mabuk
kepayang ketika melihatnya dari dekat. Komplek itu dibangun oleh ayahanda
Nashir Muhamad, yaitu Sultan Manshur Qalawun (w. 1290 M). Jendela dan dinding
komplek terpampang megah dengan sentuhan gaya ghotik, sementara interior makam
serta ukiran kubahnya bisa membuat mata seorang Ibnu Khaldun terbelalak. Lalu setiap
sore, setelah selesai mengajar di sekolah-sekolah, Ibnu Khaldun kembali melihat
senja Kairo dipenuhi oleh menara yang memenuhi kaki langit, membentuk siluet
bak sihir yang membuat siapa saja akan terpana, dan betah berlama-lama
menyusuri kota seribu menara ini.
Kecintaan
Ibnu Khaldun terhadap sejarah serta peradaban manusia itu ditularkan kepada
murid kesayangannya, yang nantinya akan menjadi sosok sejarawan yang namanya
harum, disebut-sebut sebagai rujukan paling pucuk dalam sejarah panjang perjalanan
islam di Mesir, ia adalah al-Maqrizi (w. 1442 M). Nantinya, murid Ibnu Khaldun
ini mengarang deretan buku sejarah yang sampai sekarang dijadikan pegangan,
seperti al-khitot al-maqriziyah, dan al-suluk lima'rifati duwal
al-muluk.
Sampai
sekarang pun, aku masih bisa menikmati puluhan masjid bersejarah di seantero
kota Kairo yang sibuk ini. Menara-menaranya yang usang tak kalah bersaing
dengan deretan gedung-gedung raksasa yang banyak dijejelkan di jantung pusat
peradaban islam tandingan Cordoba ini. Tidak heran memang, islam sudah ada di
kota ini sejak abad ke-7, penaklukan Mesir oleh sahabat Nabi Amru bin Ash
dilanjutkan oleh sejumlah dinasti raksasa yang mewarnai perjalanan peradaban
Mesir. Mereka meninggalkan warisan peninggalan berupa puluhan bahkan ratusan
masjid, madrasah, khanqah, sabil, sabil kutab, karavanserai, rubu',
Hod, khan, dan komplek pemakaman yang sampai sekarang masih bisa dilihat
dan diraba. Peninggalan-peninggalan tersebut dengan sangat jelas menampilkan
kepiawaian muslim dulu dalam bidang seni dan arsitektur. Aroma melting pot antar
beberapa budaya dan tradisi lintas agama Nampak terlihat di sebagian monument
tersebut, menandakan para pemeluk agama ini sudah sejak lama berinteraksi
dengan dunia luar, dunia lain, yang juga sama-sama menyimpan prestasi dan
peradaban yang memukau.
 |
patung Ibnu Khaldun di Tunisia |
Akan
tetapi, bagi pecinta arsitektur, Mesir tidak saja menampilkan sederet panorama
seni pahat dan ukir yang berbau islam. Di balik debu, Mesir menyembunyikan
peradaban lain, yang lebih dikenal, dan dikenang abadi oleh masa. Potret
peradaban Mesir paling banyak menorehkan decak kagum umat manusia adalah
peradaban Mesir Kuno yang membentang panjang lebih dari 3 milenia sebelum nabi
Isa lahir. Kini, peninggalan peradaban Mesir Kuno hampir bisa didapati di
seluruh kawasan dekat sungai Nil, membentang dari Pengantin Laut Tengah
Aleksandria di Utara Mesir, sampai lembah nun jauh di Luxor dan Aswan di
selatan.
Sekarang,
situs-situs peninggalan dinasti raksasa ini dijejali oleh ribuan turis setiap
tahun. Pecinta peradaban dan sejarah akan dimanjakan oleh deretan bangunan dan
monumen elegan seperti kuil, pyramida, makam, ruangan bergaya hypostyle, rumah
kelahiran, relief, makam berwarna, mumi, tiang-tiang raksasa, sphinx, obelisk
dan lainnnya. Sebut saja tiga piramida raksasa di Giza, dekat Kairo, yang
terpampang elegan dan menjulang menakutkan di horizon. Piramida agung Giza dibangun
pada masa dinasti ke-4 Kerajaan Lama (Old Kingdom=memanjang dari dinasti ke-4
sampai dinasti ke-8, sekitar 2575-2134 SM) oleh tiga raja terkenal dalam
semesta Mesir Kuno, yaitu Khufu, dilanjut anaknya Kafhre, lalu cucu Khufu
bernama Menkaura. Piramida raja Khufu yang terbesar misalnya, dibangun oleh
lebih dari 20.000 pekerja. Mereka diperintahkan menyusun lebih dari 2 juta
balok batu untuk membangun sebuah makam sang raja. Sementara itu Sang Bapa
Terror, atau Sphinx, terpampang gagah menjaga piramida Kafhre seakan siap
menerkam siapa saja yang berani mengusik ketenangan sang raja. Di Karnak,
Luxor, misalnya, sebuah kuil megah dibangun untuk dipersembahkan kepada Raja
Segala Tuhan, Amun-Ra. Tidak jauh dari Karnak, kuil terpampang sangar di
jantung kota Luxor, dibangun pada masa Dinasti Kerajaan Baru (New
Kingdom=memanjang dari dinasti ke-18 sampai dinasti ke-20, dari tahun 1550
sampai 1070 SM) melaui titah Raja Amenophis III dan selesai pada masa raja
diraja Ramses II. Makam raja-raja Mesir terkenal seperti Tutankhamun misalnya,
ditemukan tidak jauh dari Luxor, yaitu kawasan terkenal sejagat bernama Lembah
Para Raja (Valley of The Kings). Tak jauh dari sana, Ratu cantik kekasih Ramses
II, Nefertari, beristirahat di Lembah Para Ratu (Valley of The Queens).